Www.buka-mata.blogspot.co.id adalah blog tentang tips/ cara, beternak/ budidaya dan pendidikan

Cara Budidaya Alpukat/ Avokad

Budidaya Alpukat/ Avokad - Buka Mata. Semoga saja artikel tentang Budidaya Tanaman Buah Alpukat/ Avokad ini dapat bermanfaat.

Cara Budidaya Alpukat/ Avokad

Jenis Tanaman Alpukat
Berdasarkan sifat ekologis, tanaman alpukat terdiri dr 3 tipe keturunan/ras, yaitu:.
1) Ras Meksiko
  • Jenis ini berasal dr dataran tinggi Meksiko & Equador beriklim semi tropis dgn ketinggian antara 2.400-2.800 m dpl. Ras ini mempunyai daun & buahnya yang berbau adas. Masa berbunga sampai buah bisa dipanen lebih kurang 6 bulan. Buah kecil dgn berat 100-225 gram, bentuk jorong (oval), bertangkai pendek, kulitnya tipis & licin. Biji besar memenuhi rongga buah. Daging buah mempunyai kandungan minyak/lemak yg paling tinggi. Ras ini tahan terhadap suhu dingin.
2) Ras Guatemala
  • Berasal dr dataran tinggi Amerika Tengah beriklim sub tropis dgn ketinggian sekitar 800-2.400 m dpl. Ras ini kurang tahan terhadap suhu dingin (toleransi sampai -4,5 derajat C). Daunnya tidak berbau adas. Buah mempunyai ukuran yg cukup besar, berat berkisar antara 200-2.300 gram, kulit buah tebal, keras, mudah rusak & kasar (berbintil-bintil). Masak buah antara 9-12 bulan sesudah berbunga. Bijinya relatif berukuran kecil & menempel erat dlm rongga, dgn kulit biji yg melekat. Daging buah mempunyai kandungan minyak yg sedang.
3) Ras Hindia Barat
  • Berasal dr dataran rendah Amerika Tengah & Amerika Selatan yg beriklim tropis, dgn ketinggian di bawah 800 m dpl. Varietas ini sangat peka terhadap suhu rendah, dgn toleransi sampai minus 2 derajat C. Daunnya tidak berbau adas, warna daunnya lebih terang dibandingkan dgn kedua ras yg lain. Buahnya berukuran besar dgn berat antara 400-2.300 gram, tangkai pendek, kulit buah licin agak liat & tebal. Buah masak 6-9 bulan sesudah berbunga. Biji besar & sering lepas di dlm rongga, keping biji kasar. Kandungan minyak & daging buahnya paling rendah.
Varietas-varietas alpukat di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

1) Varietas unggul
Sifat-sifat unggul tersebut antara lain produksinya tinggi, toleran terhadap hama & penyakit, buah seragam berbentuk oval & berukuran sedang, daging buah berkualitas baik & tidak berserat, berbiji kecil melekat pada rongga biji, serta kulit buahnya licin. Sampai dgn tanggal 14 Januari 1987, Menteri Pertanian telah menetapkan 2 varietas alpukat unggul, yaitu alpukat ijo panjang & ijo bundar. Sifat-sifat kedua varietas tersebut antara lain:
  • Tinggi pohon: alpukat ijo panjang 5-8 m, alpukat ijo bundar 6-8 m.
  • Bentuk daun: alpukat ijo panjang bulat panjang dgn tepi rata, alpukat ijo bundar bulat panjang dgn tepi berombak.
  • Berbuah: alpukat ijo panjang terus-menerus, tergantung pada lokasi & kesuburan lahan, alpukat ijo bundar terus-menerus, tergantung pada lokasi & kesuburan lahan.
  • Berat buah: alpukat ijo panjang 0,3-0,5 kg, alpukat ijo bundar 0,3-0,4 kg.
  • Bentuk buah: alpukat ijo panjang bentuk pear (pyriform), alpukat ijo bundar lonjong (oblong).
  • Rasa buah: alpukat ijo panjang enak, gurih, agak lunak, alpukat ijo bundar enak, gurih, agak kering.
  • Diameter buah: alpukat ijo panjang 6,5-10 cm (rata-rata 8 cm), alpukat ijo bundar 7,5 cm.2
  • Panjang buah: alpukat ijo panjang 11,5-18 cm (rata-rata 14 cm), alpukat ijo bundar 9 cm.
  • Hasil: alpukat ijo panjang 40-80 kg /pohon/tahun (rata-rata 50 kg), alpukat ijo bundar 20-60 kg/pohon/tahun (rata-rata 30 kg).
2) Varietas lain
  • Varietas alpukat kelompok ini merupakan plasma nutfah Instalasi Penelitian & Pengkajian Teknologi, Tlekung, Malang. Beberapa varietas alpukat yg terdapat di kebun percobaan Tlekung, Malang adalah alpukat merah panjang, merah bundar, dickson, butler, winslowson, benik, puebla, furete, collinson, waldin, ganter, mexcola, duke, ryan, leucadia, queen & edranol.
Manfaat Tanaman Alpukat
  • Bagian tanaman alpukat yg banyak dimanfaatkan adalah buahnya sbg makanan buah segar. Buah alpukat jg dapat dibuat puding yang dikombinasikan dengan moka yg namanya menjadi puding alpukat saus moka yang rasanya enak. Selain itu pemanfaatan daging buah alpukat yg biasa dilakukan masyarakat Eropa adalah digunakan sbg bahan pangan yg diolah dlm berbagai masakan. Manfaat lain dr daging buah alpukat adalah untuk bahan dasar kosmetik. Bagian lain yg dapat dimanfaatkan adalah daunnya yg muda sbg obat tradisional (obat batu ginjal, rematik). Untuk manfaat lebih lanjut tentang khasiat/ manfaat alpukat dapat melalui link berikut di sini
Daerah Penghasil Buah Alpukat
  • Negara-negara penghasil alpukat dlm skala besar adalah Amerika (Florida, California, Hawaii), Australia, Cuba, Argentina, & Afrika Selatan. Dr tahun ke tahun Amerika mempunyai kebun alpukat yg senantiasa meningkat. Di Indonesia, tanaman alpukat masih merupakan tanaman pekarangan, belum dibudidayakan dlm skala usaha tani. Daerah penghasil alpukat adalah Jawa Barat, Jawa Timur, sebagian Sumatera, Sulawesi Selatan, & Nusa Tenggara.
Syarat Tumbuh Tanaman Alpukat antara lain mempehatikan :
1.Iklim.
  • Kebutuhan cahaya matahari untuk pertumbuhan alpukat berkisar 40-80 %. Untuk ras Meksiko & Guatemala lebih tahan terhadap cuaca dingin & iklim kering, bila dibandingkan dgn ras Hindia Barat.
  • Suhu optimal untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara 12,8-28,3 derajat C. Mengingat tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, tanaman alpukat dapat mentolerir suhu udara antara 15-30 derajat C atau lebih. Besarnya suhu kardinal tanaman alpukat tergantung ras masing-masing, antara lain ras Meksiko memiliki daya toleransi sampai –7 derajat C, Guatemala sampai -4,5 derajat C, & Hindia Barat sampai 2 derajat C.
  • Angin diperlukan oleh tanaman alpukat, terutama untuk proses penyerbukan. Namun demikian angin dgn kecepatan 62,4-73,6 km/jam dapat dapat mematahkan ranting & percabangan tanaman alpukat yg tergolong lunak, rapuh & mudah patah.
  • Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750-1000 mm/tahun. Ras Hindia Barat & persilangannya tumbuh dgn subur pada dataran rendah beriklim tropis dgn curah hujan 2500 mm/tahun. Untuk daerah dgn curah hujan kurang dr kebutuhan minimal (2-6 bulan kering), tanaman alpukat masih dapat tumbuh asal kedalaman air tanah maksimal 2 m.
2. Media Tanam
  • Tanaman alpukat agar tumbuh optimal memerlukan tanah gembur, tidak mudah tergenang air, (sistem pembuangan air yg baik), subur & banyak mengandung bahan organik.
  • Keasaman tanah yg baik untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara pH sedikit asam sampai netral, (5,6-6,4). Bila pH di bawah 5,5 tanaman akan
    menderita keracunan karena unsur Al, Mg, & Fe larut dlm jumlah yg cukup banyak. Sebaliknya pada pH di atas 6,5 beberapa unsur fungsional seperti Fe, Mg, & Zn akan berkurang. 
  • Jenis tanah yg baik untuk pertumbuhan alpukat adalah jenis tanah lempung berpasir (sandy loam), lempung liat (clay loam) & lempung endapan (aluvial loam).
3. Ketinggian Tempat
  • Pada umumnya tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu 5-1500 m dpl. Namun tanaman ini akan tumbuh subur dgn hasil yg memuaskan pada ketinggian 200-1000 m dpl. Untuk tanaman alpukat ras Meksiko & Guatemala lebih cocok ditanam di daerah dgn ketinggian 1000-2000 m dpl., sedangkan ras Hindia Barat pada ketinggian 5-1000 m dpl.

Bibit Tanaman Buah Alpukat
Bibit yg baik antara lain yg berasal dr
  • Buahnya tidak jatuh hingga pecah.
  • Buah yg sudah cukup tua.
  • Pengadaan bibit lebih dr satu jenis untuk menjamin kemungkinan adanya persarian bersilang.
Bibit alpukat hanya dapat diperoleh secara generatif (melalui biji) & vegetatif (penyambungan pucuk/enten & penyambungan mata/okulasi). Dr ketiga cara itu, bibit yg diperoleh dr biji kurang menguntungkan karena tanaman lama berbuah (6-8 tahun) & ada kemungkinan buah yg dihasilkan berbeda dgn induknya. Sedangkan bibit hasil okulasi maupun enten lebih cepat berbuah (1-4 tahun) & buah yg didapatkannya mempunyai sifat yang sama dgn induknya.

Teknik Penyemaian Bibit
a. Penyambungan mata (okulasi)
  • Pembuatan bibit secara okulasi dilakukan pada pohon pangkal berumur 8-10 bulan. Sbg mata yg akan diokulasikan diambil dr dahan yg sehat, dgn umur 1 tahun, serta matanya tampak jelas. Waktu yg paling baik untuk menempel yaitu pada saat kulit batang semai mudah dilepaskan dr kayunya. Caranya adalah kulit pohon pokok disayat sepanjang 10 cm & lebarnya 8 mm. Kulit tersebut dilepaskan dr kayunya & ditarik ke bawah lalu dipotong 6 cm. Selanjutnya disayat sebuah mata dgn sedikit kayu dr cabang mata (enthout), kayu dilepaskan pelan-pelan tanpa merusak mata. Kulit yg bermata dimasukkan di antara kulit & kayu yg telah disayat pada pohon pokok & ditutup lagi, dgn catatan mata jangan sampai tertutup. Akhirnya balut seluruhnya dgn pita plastik. Bila dlm 3-5 hari matanya masih hijau, berarti penempelan berhasil. 
  • Selanjutnya 10-15 hari setelah penempelan, tali plastik dibuka. Batang pohon pokok dikerat melintang sedlm setengah diameternya, kira-kira 5-7,5 cm di atas okulasi, lalu dilengkungkan sehingga pertumbuhan mata dapat lebih cepat. Setelah batang yg keluar dr mata mencapai tinggi 1 m, maka bagian pohon pokok yg dilengkungkan dipotong tepat di atas okulasi & lukanya diratakan, kemudian ditutup dgn parafin yg telah dicairkan. Pohon okulasi ini dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 8-12 bulan & pemindahan yg paling baik adalah pada saat permulaan musim hujan. Dlm perbanyakan vegetatif yg perlu diperhatikan adalah menjaga kelembaban udara agar tetap tinggi (+ 80%) & suhu udara di tempat penyambungan jangan terlalu tinggi (antara 15-25°C). Selain itu juga jangan dilakukan pada musim hujan lebat serta terlalu banyak terkena sinar matahari langsung. Bibit yg berupa sambungan perlu disiram secara rutin & dipupuk 2 minggu sekali. Pemupukan bisa bersamaan dgn penyiraman, yaitu dgn melarutkan 1-1,5 gram urea/NPK ke dlm 1 liter air. Pupuk daun bisa juga diberikan dgn dosis sesuai anjuran dlm kemasan. Sedangkan pengendalian hama & penyakit dilakukan bila perlu saja.
b. Penyambungan pucuk
  • Pohon pokok yg digunakan untuk enten adalah tanaman yg sudah berumur 6-7 bulan/dapat juga yg sudah berumur 1 tahun, tanaman berasal dr biji yg berasal dr buah yg telah tua & masak, tinggi 30 cm/kurang, & yg penting jaringan pada pangkal batang belum berkayu. Sbg cabang sambungannya digunakan ujung dahan yg masih muda & berdiameter lebih kurang 0,7 cm. Dahan tersebut dipotong miring sesuai dgn celah yg ada pada pohon pokok sepanjang lebih kurang 10 cm, kemudian disisipkan ke dlm belahan di samping pohon pokok yg diikat/dibalut. Bahan yg baik untuk mengikat adalah pita karet, plastik, rafia/kain berlilin. Sebaiknya penyambungan pada pohon pokok dilakukan serendah mungkin supaya tidak dapat kuncup pada tanaman pokok. Enten-enten yg telah disambung diletakkan di tempat teduh, tidak berangin, & lembab. Setiap hari tanaman disiram, & untuk mencegah serangan penyakit sebaiknya tanaman disemprot fungisida. Pada musim kering hama tungau putih sering menyerang, untuk itu sebaiknya dicegah dgn semprotan kelthane. Bibit biasanya sudah dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 9-16 bulan, & pemindahannya dilakukan pada saat permulaan musim hujan
Pengolahan Media Tanam
  • Lahan untuk tanaman alpukat harus dikerjakan dgn baik; harus bersih dr pepohonan, semak belukar, tunggul-tunggul bekas tanaman, serta batu-batu yang mengganggu. Selanjutnya lahan dicangkul dlm atau ditraktor, lalu dicangkul halus 2-3 kali. Pengerjaan lahan sebaiknya dilakukan saat musim kering sehingga penanaman nantinya dapat dilakukan pada awal atau saat musim hujan.
Pola Penanaman
  • Pola penanaman alpukat sebaiknya dilakukan secara kombinasi antara varietas-varietasnya. Hal ini mengingat bahwa kebanyakan varietas tanaman alpukat tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri, kecuali varietas ijo panjang yg memiliki tipe bunga A. Ada 2 tipe bunga dr beberapa varietas alpukat di Indonesia, yaitu tipe A & tipe B. Varietas yg tergolong tipe bunga A adalah ijo panjang, ijo bundar, merah panjang, merah bundar, waldin, butler, benuk, dickinson, puebla, taft, & hass. Sedangkan yg tergolong tipe B adalah collinson, itszamma, winslowsaon, fuerte, lyon, nabal, ganter, & queen. Penyerbukan silang hanya terjadi antara kedua tipe bunga. Oleh karena itu, penanaman alpukat dlm suatu lahan harus dikombinasi antara varietas yg memiliki tipe bunga A & tipe bunga B sehingga bunga-bunganya saling menyerbuki satu sama lain.
Pembuatan Lubang Tanam
  • Tanah digali dgn ukuran panjang, lebar, & tinggi masing-masing 75 cm. Lubang tersebut dibiarkan terbuka selama lebih kurang 2 minggu.
  • Tanah bagian atas & bawah dipisahkan.
  • Lubang tanam ditutup kembali dgn posisi seperti semula. Tanah bagian atas dicampur dulu dgn 20 kg pupuk kandang sebelum dimasukkan ke dlm lubang.
  • Lubang tanam yg telah tertutup kembali diberi ajir untuk memindahkan mengingat letak lubang tanam.
Waktu penanaman yg tepat adalah pada awal musim hujan & tanah yg ada dlm lubang tanam tidak lagi mengalami penurunan. Hal yg perlu diperhatikan adalah tanah yg ada dlm lubang tanam harus lebih tinggi dr tanah sekitarnya. Hal ini untuk menghindr tergenangnya air bila disirami atau turun hujan. Langkah-langkah penanaman adalah sbg berikut:
  • Lubang tanam yg telah ditutup, digali lagi dgn ukuran sebesar wadah bibit.
  • Bibit dikeluarkan dr keranjang atau polibag dgn menyayatnya agar gumpalan tanah tetap utuh.
  • Bibit beserta tanah yg masih menggumpal dimasukkan dlm lubang setinggi leher batang, lalu ditimbun & diikatkan ke ajir.
  • Setiap bibit sebaiknya diberi naungan untuk menghindr sinar matahari secara langsung, terpaan angin, maupun siraman air hujan. Naungan tersebut dibuat miring dgn bagian yg tinggi di sebelah timur. Peneduh ini berfungsi sampai tumbuh tunas-tunas baru atau lebih kurang 2-3 minggu.
Pemeliharaan Tanaman Alpukat
1) Penyiangan
  • Pencabutan Gulma harus dilakukan secara rutin selain merupakan saingan dlm memperoleh makanan, gulma juga merupakan tempat bersarangnya hama & penyakit. Oleh karena itu, agar tanaman dapat tumbuh dgn baik maka gulma-gulma tersebut harus disiangi (dicabut) secara rutin.
2) Penggemburan Tanah
  • Tanah yg setiap hari disiram tentu saja akan semakin padat & udara di dalamnya semakin sedikit. Akibatnya akar tanaman tidak dapat leluasa menyerap unsur hara. Untuk menghindarinya, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan dgn hati-hati agar akar tidak putus.
3) Penyiraman
  • Bibit yg baru ditanam memerlukan banyak air, sehingga penyiraman perlu dilakukan setiap hari. Waktu yg tepat untuk menyiram adalah pagi/sore hari, & bila hari hujan tidak perlu disiram lagi.
4) Pemangkasan Tanaman
  • Pemangkasan hanya dilakukan pada cabang-cabang yg tumbuh terlalu rapat atau ranting-ranting yg mati. Pemangkasan dilakukan secara hati-hati agar luka bekas pemangkasan terhindar dr infeksi penyakit & luka bekas pemangkasan sebaiknya diberi fungisida/penutup luka.
5) Pemupukan
  • Dlm pembudidayaan tanaman alpukat diperlukan program pemupukan yg baik & teratur. Mengingat sistem perakaran tanaman alpukat, khususnya akar-akar rambutnya, hanya sedikit & pertumbuhannya kurang ekstensif maka pupuk harus diberikan agak sering dgn dosis kecil. Jumlah pupuk yg diberikan tergantung pada umur tanaman. Bila program pemupukan tahunan menggunakan pupuk urea (45% N), TSP (50% P), & KCl (60% K) maka untuk tanaman berumur muda (1-4 tahun) diberikan urea, TSP, & KCl masing-masing sebanyak 0,27-1,1 kg/pohon, 0,5-1 kg/pohon & 0,2-0,83 kg/pohon. Untuk tanaman umur produksi (5 tahun lebih) diberikan urea, TSP, & KCl masing-masing sebanyak 2,22-3,55 kg/pohon, 3,2 kg/pohon, & 4 kg/pohon. Pupuk sebaiknya diberikan 4 kali dlm setahun. 
  • Mengingat tanaman alpukat hanya mempunyai sedikit akar rambut, maka sebaiknya pupuk diletakkan sedekat mungkin dgn akar. Caranya dgn menanamkan pupuk ke dlm lubang sedlm 30-40 cm, di mana lubang tersebut dibuat tepat di bawah tepi tajuk tanaman, melingkari tanaman.
Jenis Hama dan Penyakit Tanaman Alpukat

Hama pada Daun
1) Ulat kipat (Cricula trisfenestrata Helf)
  • Ciri: Panjang tubuh 6 cm, berwarna hitam bercak-bercak putih & dipenuhi rambut putih. Kepala & ekor berwarna merah menyala.
  • Gejala: Daun-daun tidak utuh & terdapat bekas gigitan. Pada serangan yg hebat, daun habis sama sekali tetapi tanaman tidak akan mati, & terlihat kepompong bergelantungan.
  • Pengendalian: Menggunakan insektisida yg mengandung bahan aktif monokrotofos atau Sipermetein, misal Cymbush 50 EC dgn dosis 1-3 cc/liter atau Azodrin 15 WSC dgn dosis 2-3 cc/liter.
2) Ulat kupu-kupu gajah (Attacus atlas L.)
  • Ciri: Sayap kupu-kupu dapat mencapai ukuran 25 cm dgn warna coklat kemerahan & segitiga tansparan. Ulat berwarna hijau tertutup tepung putih,
    panjang 15 cm & mempunyai duri yg berdaging. Pupa terdapat di dlm kepompong yg berwarna coklat.
  • Gejala: Sama dgn gejala serangan ulat kipat, tetapi kepompong tidak bergelantungan melainkan terdapat di antara daun.
  • Pengendalian: Sama dgn pemberantasan ulat kipat.
3) Aphis gossypii Glov/A. Cucumeris, A. cucurbitii/Aphis kapas.
  • Ciri: Warna tubuh hijau tua sampai hitam atau kunig coklat. Hama ini mengeluarkan embun madu yg biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga daun menjadi hitam & semut berdatangan.
  • Gejala: Pertumbuhan tanaman terganggu. Pada serangan yg hebat tanaman akan kerdil & terpilin.
  • Pengendalian: Disemprot dgn insektisida berbahan aktif asefat/dimetoat, misalnya Orthene 75 SP dgn dosis 0,5-0,8 gram/liter atau Roxion 2 cc/liter.
4) Kutu dompolan putih (Pseudococcus citri Risso)/Planococcus citri Risso
  • Ciri: Bentuk tubuh elips, berwarna coklat kekuningan sampai merah oranye, tertutup tepung putih, ukuran tubuh 3 mm, mempunyai tonjolan di tepi tubuh dgn jumlah 14-18 pasang & yg terpanjang di bagian pantatnya.
  • Gejala: Pertumbuhan tanaman terhambat & kurus. Tunas muda, daun, batang, tangkai bunga, tangkai buah, & buah yg terserang akan terlihat pucat, tertutup massa berwarna putih, & lama kelamaan kering.
  • Pengendalian: Disemprot dgn insektisida yg mengandung bahan aktif formotion, monokrotofos, dimetoat, atau karbaril. Misalnya anthion 30 EC dosis 1-1,5 liter/ha, Sevin 85 S dosis 0,2% dr konsentrasi fomula.
5) Tungau merah (Tetranychus cinnabarinus Boisd)
  • Ciri: Tubuh tungau betina berwarna merah tua/merah kecoklatan, sedangkan tungau jantan hijau kekuningan/kemerahan. Terdapat beberapa bercak hitam, kaki & bagian mulut putih, ukuran tubuh 0,5 mm.
  • Gejala: Permukaan daun berbintik-bintik kuning yg kemudian akan berubah menjadi merah tua seperti karat. Di bawah permukaan daun tampak anyaman benang yg halus. Serangan yg hebat dapat menyebabkan daun menjadi layu & rontok.
  • Pengendalian: Disemprot dgn akarisida Kelthan MF yg mengandung bahan aktif dikofoldan, dgn dosis 0,6-1 liter/ha.
Hama pada Buah
1) Lalat buah Dacus (Dacus dorsalis Hend.)
  • Ciri: Ukuran tubuh 6 - 8 mm dgn bentangan sayap 5 - 7 mm. Bagian dada berwarna coklat tua bercak kuning/putih & bagian perut coklat muda dengan pita coklat tua. Stadium larva berwarna putih pada saat masih muda & kekuningan setelah dewasa, panjang tubuhnya 1 cm.
  • Gejala: Terlihat bintik hitam/bejolan pada permukaan buah, yg merupakan tusukan hama sekaligus tempat untuk meletakkan telur. Bagian dlm buah berlubang & busuk karena dimakan larva. 
  • Pengendalian: Dgn umpan minyak citronella/umpan protein malation akan mematikan lalat yg memakannya. Penyemprotan insektisida dapat dilakukan antara lain dgn Hostathion 40 EC yg berbahan aktif triazofos dosis 2 cc/liter & tindakan yg paling baik adalah memusnahkan semua buah yg terserang atau membalik tanah agar larva terkena sinar matahari & mati.
2) Codot (Cynopterus sp)
  • Ciri: Tubuh seperti kelelawar tetapi ukurannya lebih kecil menyerang buah-buahan pada malam hari.
  • Gejala: Terdapat bagian buah yg berlubang bekas gigitan. Buah yg terserang hanya yg telah tua, & bagian yg dimakan adalah daging buahnya saja.
  • Pengendalian: Menangkap codot menggunakan jala/menakut-nakutinya menggunakan kincir angin yg diberi peluit sehingga dapat menimbulkan suara.
Hama pada Cabang/Ranting
1) Kumbang bubuk cabang (Xyleborus coffeae Wurth / Xylosandrus morigerus Bldf).
  • Ciri: Kumbang yg lebih menyukai tanaman kopi ini berwarna coklat tua & berukuran 1,5 mm. Larvanya berwarna putih & panjangnya 2 mm.
  • Gejala: Terdapat lubang yg menyerupai terowongan pada cabang atau ranting. Terowongan itu dapat semakin besar sehingga makanan tidak dapat tersalurakan ke daun, kemudian daun menjadi layu & akhirnya cabang atau ranting tersebut mati.
  • Pengendalian: Cabang/ranting yg terserang dipangkas & dibakar. Dapat juga disemprot insektisida berbahan aktif asefat atau diazinon yang terkandung dlm Orthene 75 SP dgn dosis pemberian 0,5-0,8 gram/liter & Diazinon 60 EC dosis 1-2 cc/liter.
Penyakit yg disebabkan Jamur
1) Antraknosa
  • Penyebab: Jamur Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) sacc. Yg mempunyai miselium berwarna cokleat hijau sampai hitam kelabu & sporanya berwarna jingga.
  • Gejala: Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman, kecuali akar. Bagian yg terinfeksi berwarna cokelat karat, kemudian daun, bunga, buah/cabang tanaman yg terserang akan gugur.
  • Pengendalian: Pemangkasan ranting & cabang yg mati. Penelitian buah dilakukan agak awal (sudah tua tapi belum matang). Dapat juga disemprot dgn fungisida yg berbahan aktif maneb seperti pada Velimex 80 WP. Fungisida ini diberikan 2 minggu sebelum pemetikan dgn dosis 2-2,5 gram/liter.
2) Bercak daun atau bercak cokelat
  • Penyebab: cercospora purpurea Cke./dikenal juga dgn Pseudocercospora purpurea (Cke.) Derghton. Jamur ini berwarna gelap & menyukai tempat lembab.
  • Gejala: bercak cokelat muda dgn tepi cokelat tua di permukaan daun atau buah. Bila cuaca lembab, bercak cokelat berubah menjadi bintik-bintik
    kelabu. Bila dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi lubang yg dapat dimasuki organisme lain.
  • Pengendalian: Penyemprotan fungisida Masalgin 50 WP yg mengandung benomyl, dgn dosis 1-2 gram/liter atau dapat juga dgn mengoleskan bubur Bordeaux.
3) Busuk akar & kanker batang
  • Penyebab: Jamur Phytophthora yg hidup saprofit di tanah yg mengandung bahan organik, menyukai tanah basah dgn drainase jelek.
  • Gejala: Bila tanaman yg terserang akarnya maka pertumbuhannya menjadi terganggu, tunas mudanya jarang tumbuh. Akibat yg paling fatal adalah kematian pohon. Bila batang tanaman yg terserang maka akan tampak perubahan warna kulit pada pangkal batang.
  • Pengendalian: drainase perlu diperbaiki, jangan sampai ada air yg menggenang/dgn membongkar tanaman yg terserang kemudian diganti dgn tanaman yg baru.
4) Busuk buah
  • Penyebab: Botryodiplodia theobromae pat. Jamur ini menyerang apabila ada luka pada permukaan buah.
  • Gejala: Bagian yg pertama kali diserang adalah ujung tangkai buah dgn tanda adanya bercak cokelat yg tidak teratur, yg kemudian menjalar ke bagian buah. Pada kulit buah akan timbul tonjolan-tonjolan kecil.
  • Pengendalian: Oleskan bubur Bordeaux/ semprotkan fungisida Velimex 80 WP yg berbahan aktif Zineb, dgn dosis 2-2,5 gram/liter.
Ciri-ciri buah yg sudah tua tetapi belum masak adalah:
  • warna kulit tua tetapi belum menjadi cokelat/merah & tidak mengkilap;
  • bila buah diketuk dgn punggung kuku, menimbulkan bunyi yg nyaring;
  • bila buah digoyang-goyang, akan terdengar goncangan biji.
Penetapan tingkat ketuaan buah tersebut memerlukan pengalaman tersendiri. Sebaiknya perlu diamati waktu bunga mekar sampai enam bulan kemudian, karena buah alpukat biasanya tua setelah 6-7 bulan dr saat bunga mekar. Untuk memastikannya, perlu dipetik beberapa buah sbg contoh. Bila buah-buah contoh
tersebut masak dgn baik, tandanya buah tersebut telah tua & siap dipanen.

Biasanya alpukat mengalami musim berbunga pada awal musim hujan, & musim berbuah lebatnya biasanya pada bulan Desember, Januari, & Februari. Di Indonesia yg keadaan alamnya cocok untuk pertanaman alpukat, musim panen dapat terjadi setiap bulan.

Prakiraan Produksi
Produksi buah alpukat pada pohon-pohon yg tumbuh & berbuah baik dapat mencapai 70-80 kg/pohon/tahun. Produksi rata-rata yg dapat diharapkan dr setiap pohon berkisar 50 kg.

Penyortiran buah dilakukan sejak masih berada di tingkat petani, dgn tujuan memilih buah yg baik & memenuhi syarat, buah yg diharapkan adalah yg memiliki ciri sbg berikut:
  1. Tidak cacat, kulit buah harus mulus tanpa bercak.
  2. Cukup tua tapi belum matang.
  3. Ukuran buah seragam. Biasanya dipakai standar dlm 1 kg terdiri dr 3 buah atau berbobot maksimal 400 g.
  4. Bentuk buah seragam. Pesanan paling banyak adalah yg berbentuk lonceng.
Pemeraman & Penyimpanan
  • Alpukat baru dapat dikonsumsi bila sudah masak. Untuk mencapai tingkat kemasan ini diperlukan waktu sekitar 7 hari setelah petik (bila buah dipetik pada saat sudah cukup ketuaannya). Bila tenggang waktu tersebut akan dipercepat, maka buah harus diperam terlebih dulu. Untuk keperluan ekspor, tidak perlu dilakukan pemeraman karena tenggang waktu ini disesuaikan dgn lamanya perjalanan untuk sampai di tempat tujuan. Cara pemeraman alpukat masih sangat sederhana. Pada umumnya hanya dgn memasukkan buah ke dlm karung goni, kemudian ujungnya diikat rapat. Setelah itu karung diletakkan di tempat yg kering & bersih. Karena alpukat mempunyai umur simpan hanya sampai sekitar 7 hari (sejak petik sampai siap dikonsumsi), maka bila ingin memperlambat umur simpan tersebut dapat dilakukan dgn menyimpannya dlm ruangan bersuhu 5 derajat C. Dgn cara tersebut, umur penyimpanan dapat diperlambat samapai 30-40 hari.
Pengemasan & Pengangkutan
  • Kemasan adalah wadah/tempat yg digunakan untuk mengemas suatu komoditas. Kemasan untuk pasar lokal berbeda dgn yg untuk diekspor. Untuk pemasaran di dlm negeri, buah alpukat dikemas dlm karung-karung plastik/keranjang, lalu diangkut dgn menggunakan truk. Sedangkan kemasan untuk ekspor berbeda lagi, yaitu umumnya menggunakan kotak karton berkapasitas 5 kg buah alpukat. Sebelum dimasukkan ke dlm kotak karton, alpukat dibungkus kertas tissue, kemudian diatur sususannya dgn diselingi penyekat yg terbuat dr potongan karton.

Sedangkan syarat mutu adalah sbg berikut:
  1. Kesamaan sifat varietas
  2. Tingkat ketuaan
  3. Bentuk
  4. Kekerasan
  5. Ukuran
  6. Kerusakan
  7. Busuk
  8. Kotoran 
Baca Juga artikeltentang 
Special Thanks to :
1. Allah SWT
2. Pengunjung
3. Pengiklan
Anda sedang membaca artikel tentang Cara Budidaya Alpukat/ Avokad dan anda bisa menemukan artikel Cara Budidaya Alpukat/ Avokad ini dengan url http://buka-mata.blogspot.com/2012/09/Tips-Cara-Budidaya-Tanaman-Buah-Alpukat-Avokad-Lengkap.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cara Budidaya Alpukat/ Avokad ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cara Budidaya Alpukat/ Avokad sebagai sumbernya.
The item being reviewed 4 5 24

ARTIKEL TERKAIT:

Cara Budidaya Alpukat/ Avokad Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Buka Mata

0 comments:

Posting Komentar