Budidaya Tanaman Pepaya – Buka Mata. Buah papaya sering kita jumpai di pasar-pasar utk dijual, tapi tapi tahukah bagaimana cara budidaya tanaman ini? Berikut adalah teknik budidaya tanaman papaya tsb.
Home » Posts filed under Budidaya dan Beternak
Tampilkan postingan dengan label Budidaya dan Beternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya dan Beternak. Tampilkan semua postingan
Budidaya Tanaman Pepaya
Budidaya Tanaman Pepaya – Buka Mata . Buah papaya sering kita jumpai di pasar-pasar utk dijual, tapi tapi tahukah bagaimana cara budidaya ta...
SYARAT TUMBUH TANAMAN PEPAYA
Tanaman pepaya tumbuh optimal pada daerah dgn ketinggian tempat antara 200-500 mdpl. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari penuh tanpa naungan, dgn suhu udara berkisar 22-26°C, pH tanah 6-7.
Tanaman pepaya termasuk tanaman yg sensitif terhadap kekurangan dan kelebihan air. Jika terjadi kekurangan air, pertumbuhannya akan terhambat dan buah yg terbentuk tidak sempurna. Sedangkan jika kelebihan air (terutama ada genangan air) akar tanaman tidak dpt bernafas dgn baik, sehingga mudah terserang penyakit penyebab layu.
PELAKSANAAN BUDIDAYA PEPAYA
Persiapan Lahan
Persiapan lahan meliputi pembuatan lubang tanam (pembolongan mulsa) tepat di tengah bedengan dgn jarak tanam ideal 2,75m zigzag. Sistem tanam zigzag bertujuan utk menjaga kelembaban antar bedengan, terutama saat musim hujan. Lubangi mulsa dgn panjang 40cm dan lebar 40cm atau bisa juga berbentuk bulat berdiameter 50 cm, kemudian dilakukan pembuatan lubang tanam dgn panjang 25cm, lebar 25cm, dan kedalaman 25cm.
Pemberian pupuk kandang yg sudah difermentasi dilakukan 2 minggu sebelum tanam sebanyak 0,5kg/lubang tanam dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 g/lubang tanam.
Persiapan Pembibitan dan Penanaman
Pada persiapan pembibitan dibutuhkan rumah atau sungkup pembibitan utk melindungi bibit yg masih muda. Kemudian menyediakan media semai dgn komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai berukuran 8cmx10cm. Benih disemaikan ke dalam media sebanyak 1 butir/media. utk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup dgn kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) dan dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai pada jam 07.00 - 09.00, dan dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 14 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh utk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah dan dilakukan setiap pagi. Penyemprotan dgn fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid dilakukan pada umur 30 hss (hari setelah semai) dgn dosis ½ dari dosis terendah. Bibit yg sudah memiliki 4 helai daun sejati siap utk pindah tanam ke lahan.
PEMELIHARAAN TANAMAN PADA BUDIDAYA PEPAYA
Penyulaman
Penyulaman dilakukan sampai dgn umur tanaman 1,5 bulan. Tanaman yg sudah terlalu tua apabila masih terus disulam akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.
Perempelan
Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yg keluar di ketiak daun. Bertujuan utk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, agar tanaman tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban pada saat tanaman sudah dewasa. Dilakukan sampai dgn munculnya bunga pertama.
Sanitasi Lahan dan Pengairan
Sanitasi lahan pada budidaya pepaya meliputi : pengendalian gulma/rumput dan pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan.
Pengairan diberikan secara terukur, dgn penggenangan atau pengeleban 2 minggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.
Pemupukan Susulan
Pupuk akar diberikan sebulan sekali dgn cara pengocoran, yaitu pada umur 1-4 bulan dosisnya 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, tiap tanaman diberikan 1lt. Sedangkan pada umur di atas 4 bulan dosisnya 5kg NPK 15-15-15 dan 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, tiap tanaman diberikan 1lt.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan, sedangkan kandungan Phospat dan kalium tinggi diberikan pada umur di atas 6bulan.
Hama dan Penyakit Pada Budidaya Tanaman Pepaya
Hama Tanaman Pepaya
1.Kutu Daun
Kutu daun mengisap cairan tanaman terutama pada daun yg masih muda, kotoran dari kutu ini berasa manis sehingga menggundang semut. Daun yg terserang mengalami klorosis(kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dgn penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dgn dosis sesuai petunjuk yg tertera pada kemasan.
2.Kutu Putih
Kutu putih berbentuk bulat dan berwarna kehijauan, seluruh tubuhnya diselumuti lapisan lilin berwarna putih. Hama ini menyerang tanaman dgn cara menghisap cairan daun dan menyelubungi buah. Serangan pada bunga menyebabkan kerontokan. Kotorannya sangat manis sehingga mengundang semut. Pengendaliannya dgn penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dgn dosis sesuai petunjuk yg tertera pada kemasan.
3.Kutu Kebul
Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dgn cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dgn dosis sesuai petunjuk yg tertera pada kemasan.
4.Tungau
Tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun. Daun yg terserang awalnya muncul bintik-bintik berwarna putih kemudian pada serangan berat seluruh permukaan daun akan tampak berselaput putih, serta pada permukaan bawah daun terdpt benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian tungau dpt dilakukan dgn penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin dgn dosis sesuai petunjuk yg tertera pada kemasan.
Penyakit Tanaman Pepaya
1.Layu Bakteri
Serangannya disebabkan oleh bakteri, daun yg terserang terkulai lemas dan gugur, pucuk tanaman membusuk dan terus menjalar ke bawah sampai akhirnya seluruh tanaman membusuk. Pengendaliannya dgn membongkar tanaman yg sakit sampai ke akar-akarnya, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dgn bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dgn dosis sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, dilakukan pengocoran dgn pestisida organik pada tanah setiap 1 bulan sekali, contoh wonderfat dgn dosis sesuai anjuran pada kemasan.
2.Busuk Phytopthora
Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman. Pangkal batang yg terserang membusuk kemudian terkulai, serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun yg terserang seperti tersiram air panas, layu, menguning dan menggantung di sekitar batang sebelum akhirnya rontok. Akar lateral membusuk, membentuk massa spora berwarna coklat tua, lunak dan berbau tidak enak. Pada Buah serangan dimulai dari tangkai buah, buah diselimuti miselium cendawan berwarna putih, akhirnya buah mengeriput dan berwarna hitam. Pengendaliannya dgn sanitasi kebun, membongkar tanaman yg terserang sampai ke akar-akarnya, serta memusnahkan buah yg terserang. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yg bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yg bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.
3.Antraknosa
Serangan antraknosa pada buah muda berbentuk luka kecil ditandai adanya getah yg keluar dan mengental, pada buah menjelang masak ditandai bulatan-bulatan kecil berwarna gelap, saat buah mulai masak bulatan semakin membesar berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora. Pengendaliannya dgn sanitasi kebun, serta memusnahkan buah yg terserang. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yg bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan.
4.Virus
Gejala serangan virus umumnya ditandai dgn pertumbuhan tanaman yg mengerdil, daun mengeriting dan terdpt bercak kuning kebasah-basahan dgn sisi daun bergaris-garis tidak teratur (mosaik). Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yg sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dpt juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat pemangkasan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman yg sudah terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.
Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Tanaman Pepaya
Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yg tertera di atas setiap melakukan penyemprotan, jangan menggunakan bahan aktif yg sama secara berturut-turut. Tanaman pepaya merupakan tanaman yg tahan terhadap serangan hama penyakit, sehingga penyemprotan dpt dilakukan 1 minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Jadi penggunaan pestisida dpt dihemat.
PANEN
Buah pepaya dpt dipanen saat tanaman berumur 7 bulan. Buah yg dipanen adalah buah yg 20% masak. utk menjaga kondisi tanaman agar tetap sehat, pada saat pemanenan gunakan pisau atau sejenisnya supaya bekas potongan tidak mudah terserang penyakit terutama pada musim hujan.
Demikian artikel ttg Budidaya Tanaman Pepaya, semoga bermanfaat.
Kata Terkait : bisnis papaya, bertani papaya, cara
menanam buah-buahan, tanam buah, bisnis pembibitan tanaman, cara tanam buah, budidaya
pohon papaya, budidaya pepaya jingga, makalah budidaya papaya, budidaya pepaya organic,
analisa budidaya papaya, budidaya pepaya kalifornia, budidaya buah papaya, budidaya
pepaya calina, teknis budidaya papaya, budidaya pepaya taiwan,budidaya pepaya unggul, budidaya
pepaya hawai, budidaya pepaya madu, budidaya pepaya kalian, budidaya tanaman papaya,
budidaya pepaya pdf, budidaya pepaya Thailand, teknik budidaya papaya, budidaya
pepaya California, budidaya pepaya Bangkok, cara budidaya papaya, budi daya
pepaya California, budi daya pepaya Bangkok, budi daya tanaman papaya, budi
daya papaya, cara budi daya papaya.
The item being reviewed
4
5
24
HAMA dan PENYAKIT JAMBU AIR
HAMA dan PENYAKIT JAMBU AIR - Buka Mata . Kita akan bedakan antara mana yang merupakan hama jambu air dan mana yang merupakan penyakit jam...
HAMA dan PENYAKIT JAMBU AIR - Buka Mata. Kita akan bedakan antara mana yang merupakan hama jambu air dan mana yang merupakan penyakit jambu air. Berikut adalah jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang jambu air.
Hama Jambu Air
1) Ulat kupu-kupu gajah
- Ciri: panjang 12 cm, warna hijau muda kebiru-biruan, bertubuh gemuk & lunak, tertutup lapisan lilin keputih-putihan. Telur-telurnya ditaruh di tepi daun, 2-3 butir bersama-sama, warna merah muda. Kepompong berada di antara beberapa daun atau di sebelah bawah daun. Ulat-ulat tersebut sangat rakus memakan daun.
- Pengendalian: dgn cara mengumpulkan telur, ulat, & kepompong untuk dimusnahkan.
2) Kutu perisai hijau
- Ciri: panjang kutu 3-5 mm, warna hijau (kadang agak kemerahan). Melekat pada bagian-bagian pohon yg hijau & di bagian bawah daun. Menyebabkan terjadinya cendawan hitam seperti jelaga.
- Pengendalian: cara alami dimakan oleh beberapa macam kepik (merah tua, panjang 5 mm & biru panjang 6 mm) & ulat (warna merah muda, panjang 13 mm). Kutu ini di musim penghujan bisa musnah oleh serangan beberapa macam cendawan.
3) Keluang & codot
- Pengendalian: buah-buahan yg hampir tua dibungkus kantong kertas/kain-kain bekas.
4) Pasilan atau benalu
- Pengendalian: dibuang & dibersihkan.
5) Lalat buah (dacus pedestris)
- Buah & daun yg terserang oleh ulat ini. Lalat ini meletakkan telurnya pada daging buah, sehingga setelah menetas larvanya memakan buah jambu air.
- Pengendalian: dgn insektisida Diazinon atau Bayrusil yg disemprotkan ke pohon, daun & buah yg masih pentil dgn dosis sesuai anjuran.
6) Penggerek batang
- Pengendalian: dgn cara menyumbatkan kapas yg telah direndam insektisida Diazinon atau Bayrusil kedalam lubang batang yg digerek.
7) Ulat penggulung/pemakan daun
Penyakit Jambu Air
1) Gangguan pada akar
- Pemupukan yg kurang hati-hati pada jambu air yg sedang berbuah dpt menyebabkan akar tanaman luka, maka bunga atau buah jambu air bisa rontok. Semua ini terjadi karena tanaman tdk mendapat suplai air & zat makanan sebagaimana mestinya akibat rusaknya akar tersebut. Selain itu tanah yg berlebihan supali air juga dpt merontokkan bunga/buah, sebab sebab air yg menggenang membuat akar susah bernafas & mengundang cendawan yang bisamembusukkan akar.
2) Gangguan pada buah
- Penyebab: ulat (lalat) buah & sejenis cendawan yg mengakibatkan buah rontok, busuk. Serangga ini langsung menyerang buah dgn ciri noda berwarna kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah. Pengendalian: (1) cara membungkus buah sewaktu masih dipohon (2) dgn penyemprotan insektisida thioda (2-3 cc/liter air) & fungisida dithane (3 cc/liter air)
Baca juga:
The item being reviewed
4
5
24
HAMA dan PENYAKIT JAMBU AIR
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Cara Memelihara Tanaman Jambu Air
Cara Memelihara Tanaman Jambu Air - Buka Mata . Ada beberapa hal yang dilakukan dalam Memelihara Tanaman Jambu Air. Hal yang dilakukan misal...
Cara Memelihara Tanaman Jambu Air - Buka Mata. Ada beberapa hal yang dilakukan dalam Memelihara Tanaman Jambu Air. Hal yang dilakukan misalnya penjarangan/ penyulaman, penyiangan dll.
1) Penjarangan & Penyulaman Jambu Air
Penyulaman
dilakukan sebelum tanaman berumur 1 bulan. Bibit yg tdk tumbuh diganti
dgn bibit baru yg ditanam pada lubang tanam yg sama.
2) Penyiangan Jambu Air
Penyiangan
dilakukan dgn maksud menyuburkan tanah, membuang rumput liar/tanaman
liar (kalau ada) atau binatang yg mendekap diantara tanah. dgn
penyiangan dpt memeriksa keadaan lapisan tanah.
3) Pemupukan Jambu Air
Pemupukan jambu air dpt diberikan sebelum berbuah & sesudah berbuah, sebaiknya setelah dilakukan penyiangan.
a) Tanaman belum berbuah
- Pupuk kandang diberikan sekali gus pada awal musim hujan.
- Pupuk urea diberikan 1/3 bersamaan dgn pupuk kandang.
- 2 minggu setelah itu, sisa urea diberikan bersamaan dgn TSP & KCl.
- Pupuk kandang diberikan sekaligus pada awal musim hujan.
- Pupuk
urea 2/3, TSP 1/2, KCl 1/3 diberikan pada saat tanaman belum
berbunga (bersamaan dgn pemberian pupuk kandang & saat hujan
pertama mulai turun). - Sisa pupuk diberikan setelah buah membesar (umur buah sekitar 1-2 bulan sejak berbunga & ukuran buah ± sebesar telur puyuh). Cara pemberian pupuk tersebut sebaiknya dibenam dlm Rorak (got) sedalam 20-30 cm mengelilingi tajuk pohon. Dosis pupuk bagi pohon jambu air umur =15 tahun.
- Pupuk kandang: maksimal 30 kaleng minyak tanah.
- Pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk KCl (masing-masing) : 2500 gram.
Kenaikan takaran pupuk tersebut setiap tahun setelah jambu air berumur =10 tahun ialah:
- Pupuk kandang: 2 kaleng minyak tanah.
- Pupuk Urea: 100 gram.
- Pupuk TSP: 50 gram.
- Pupuk KCl: 50-100 gram.
4) Pengairan & Penyiraman Tanaman Jambu Air
Tanaman
jambu air yg hidup pada tanah dgn kedalaman air tanah 150-200 cm, pada
musim kemarau sangat memerlukan penyiraman, agar tanah tetap lembab.
Ketika masih muda, selama 2 minggu pertama tanaman muda perlu diairi 1-2
kali sehari. Jika sudah cukup besar & perakarannya dalam, tanaman
disirami 10-12 kali sebulan.
5) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan dilakukan secara teratur 1-2 kali seminggu. Awal penyemprotan dilakukan saat buah jambu air sebesar telur puyuh
(umur ± 1-2 bulan sejak berbunga). Akhir penyemprotan dilakukan saat
buah jambu air akan dipetik (sebulan sebelum dipetik & warna buah
sudah berubah) atau sampai gejala serangannya hilang. Ketika hendak
melakukan penyemprotan pestisida, atau pupuk daun/hormon, kita harus
memperhatikan cuaca waktu itu. Kalau langit mendung & kemungkinannya
akan turun hujan, sebaiknya penyemprotan ditunda dulu.
6) Pemeliharaan Lain
Pemangkasan
dilakukan dgn tujuan untuk membentuk pohon, pemeliharaan &
peremajaan. Membentuk pohon: dilakukan setelah mencapai ketinggian 2
meter, dgn ketinggian 1,35-1,5 m dari permukaan tanah & bagian yg
dipangkas adalah cabang/tunas. Untuk pemeliharaan: dilakukan setiap saat
kecuali ketika tanaman sedang berbunga, bagian yg ditanam adalah
dahan-dahan yg tua, yg mati kering, luka serta tdk sempurna. Untuk
peremajaan: memangkas seluruh bagian tanaman yg sudah kelewat tua, tdk
berproduksi atau diserang hama.
Demikian artikel tentang Cara Memelihara Tanaman Jambu Air, semoga bermanfaat.
Baca juga:
Budidaya Jambu Air
Pembibitan Jambu Air
Baca juga:
Budidaya Jambu Air
Pembibitan Jambu Air
The item being reviewed
4
5
24
Cara Memelihara Tanaman Jambu Air
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Pembibitan Jambu Air
Pembibitan Jambu Air - Buka Mata . Pada kesempatan kali ini akan diceritakan tentang Pembibitan Jambu Air. 1) Persyaratan Benih/Bibit Ja...
Pembibitan Jambu Air - Buka Mata. Pada kesempatan kali ini akan diceritakan tentang Pembibitan Jambu Air.
1) Persyaratan Benih/Bibit Jambu Air
Biji jambu air berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun, produktif & produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yg besarnya normal & mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh. Biji-biji yg memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam, bernas & tdk cacat, dianjurkan dlm meggunakan bibit jambu air hasil cangkokan/okulasi. Selain lebih mudah dilakukan, cara ini lebih cepat menghasilkan buah.
2) Persiapan Benih Jambu Air
a. Bibit Enten (Grafting) Jambu Air
2) Persiapan Benih Jambu Air
a. Bibit Enten (Grafting) Jambu Air
Model sambungan yg terbaik adalah sambungan celah. Batang bawah berasal dari bibit hasil perbanyakan dgn biji yg berumur 10 tahun, sedangkan pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung bibit dipelihara selama 2-3 bulan.
b. Bibit Cangkok Jambu Air
b. Bibit Cangkok Jambu Air
Cabang yg akan dicangkok berada pada tanaman yg unggul & produktif. Cabang yg dipilih tdk telalu tua/muda, berwarna hijau keabu-abuan/kecoklat-coklatan dgn diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2.5 bulan (sudah berakar), bibit segera dipotong & ditanam dipolibag dgn media campuran : pupuk kandang 1 : 1. Bibit dipelihara selama 1 bulan.
3) Teknik Penyemaian Benih Jambu Air
Persemaian dpt dilakukan di dlm bedengan atau di polibag.
a) Bedengan Jambu Air
3) Teknik Penyemaian Benih Jambu Air
Persemaian dpt dilakukan di dlm bedengan atau di polibag.
a) Bedengan Jambu Air
- Olah tanah sedalam 30-40 cm dgn cangkul kemudian keringkan selama 15-30 hari.
- Buat bedengan dgn lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang sesuai lahan & jarak antar bedengan 60 cm.
- Campurkan 2 kg/m 2 pupuk kandang dgn tanah bedengan.
- Buat sungkup bedengan berbentuk setengah lingkaran dgn tinggi pusat lingkaran minimal 50 cm. Naungi sungkup dgn plastik bening.
b) Polybag Jambu Air
- Lubangi dasar polybag diameter 10-15 cm.
- Isi polibag dgn media berupa campuran tanah, pupuk kandang (2 : 1).
- Simpan polybag di dlm sungkup.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian Jambu Air.
Pemeliharaan pembibitan dilakukan dgn cara sebagai berikut:
Pemeliharaan pembibitan dilakukan dgn cara sebagai berikut:
- Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, terutama jika kemarau.
- Penyiangan dilakukan sesuai dgn pertumbuhan gulma.
- Pemupukan setiap 3 bulan dgn urea, SP-36 & KCl (2:1) sebanyak 50-100 gram/m 2 atau 4 gram/polibag.
- Penyemprotan pestisida dgn konsentrasi 30-50% dari dosis anjuran.
- Membuka sungkup jika cuaca cerah secara berangsur-angsur agar tanaman dpt beradaptasi dgn lingkungan kebun.
5) Pemindahan Bibit Jambu Air
Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan. Pindah tanam ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di persemaian.
Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan. Pindah tanam ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di persemaian.
Demikian aertikel ttg Pembibitan Jambu Air, semoga bermanfaat.
Baca juga artikel lainnya:
Budidaya Jambu Air
Bunga Dahlia
The item being reviewed
4
5
24
Pembibitan Jambu Air
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Jenis - Jenis Jambu Air
Jenis - Jenis Jambu Air - Buka Mata . Berikut ini adalah Jenis - Jenis Tanaman Jambu Air . Tanaman jambu air mem punya i sistematika seba...
Jenis - Jenis Jambu Air - Buka Mata. Berikut ini adalah Jenis - Jenis Tanaman Jambu Air.
Tanaman jambu air mempunyai sistematika sebagai berikut:
Tanaman jambu air mempunyai sistematika sebagai berikut:
- Kingdom : Plantarum
- Sub Kingdom : Kormophyta
- Super Divisio : Kormophyta biji
- Divisio : Spermatophyta
- Sub Divisio : Angiospermae
- Classis : Dycotyledoneae
- Ordo : Myrtales
- Familia : Myrtaceae
- Genus : Syzygium
- Species : Eugenia aquea
Selain itu juga terdapat 2 jenis jambu air yg banyak ditanam, tetapi keduanya tdk begitu menyolok perbedaannya. Ke dua jenis tersebut adalah Syzygium quaeum (jambu air kecil) & Syzygium samarangense (jambu air besar). Varietas jambu air besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel & Cincalo (merah & hijau/putih) & Jenis-jenis jambu air lainnya adalah: Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat), & Manalagi (tanpa biji). Sedangkan varietas yg paling komersil adalah Cincalo & Semarang, yg masing-masing terdiri dari 2 macam (merah & putih).
Demikian artikel yang berjudul Jenis - Jenis Jambu Air.
Baca juga
Demikian artikel yang berjudul Jenis - Jenis Jambu Air.
Baca juga
The item being reviewed
4
5
24
Jenis - Jenis Jambu Air
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Cara Beternak/ Budidaya Cacing Tanah
Budidaya Cacing Tanah - Buka Mata . Beternak Cacing Tanah??? Mengapa tidak. Untuk sebagian orang mungkin menjijikkan, namun cacing tanah d...
Budidaya Cacing Tanah - Buka Mata. Beternak Cacing Tanah??? Mengapa tidak. Untuk sebagian orang mungkin menjijikkan, namun cacing tanah dapat membawa berkah jika dibudidayakan dengan benar. berikut adalah Cara Budidaya Cacing Tanah.
1. SEJARAH SINGKAT CACING TANAH
Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tdk mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dr kelas ini Megascilicidae & Lumbricidae Cacing tanah bukanlah hewan yg asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yg sangat menakjubkan bagi kehidupan & kesejahteraan manusia.
2. SENTRA PETERNAKAN CACING TANAH
Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang & sekitarnya.
Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang & sekitarnya.
3. JENIS CACING TANAH
Jenis-jenis yg paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dr famili Megascolicidae & Lumbricidae dgn genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi & Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yg kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony & Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yg berasal dr pupuk kandang & sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yg dimiliki sekitar 90-195 & klitelum yg terletak pd segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dgn jenis yg lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pd segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang & silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yg termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot & cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dgn jumlah segmen 75-165 & klitelumnya terletak pd segmen 13 & 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yg lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yg lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan & produksi bekas cacing “kascing”) serta tdk banyak bergerak
Jenis-jenis yg paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dr famili Megascolicidae & Lumbricidae dgn genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi & Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yg kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony & Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yg berasal dr pupuk kandang & sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yg dimiliki sekitar 90-195 & klitelum yg terletak pd segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dgn jenis yg lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pd segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang & silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yg termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot & cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dgn jumlah segmen 75-165 & klitelumnya terletak pd segmen 13 & 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yg lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yg lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan & produksi bekas cacing “kascing”) serta tdk banyak bergerak
4. MANFAAT CACING TANAH
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi & struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur & penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yg menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dpt digunakan sebagai:
1. Bahan Pakan Ternak
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi & struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur & penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yg menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dpt digunakan sebagai:
1. Bahan Pakan Ternak
- Berkat kandungan protein, lemak & mineralnya yg tinggi, cacing tanah dpt dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang & kodok.
2. Bahan Baku Obat & bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
- Secara tradisional cacing tanah dipercaya dpt meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi & tipus.
3. Bahan Baku Kosmetik
- Cacing dpt diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit & bahan baku pembuatan lipstik.
4. Makanan Manusia
- Cacing merupakan sumber protein yg berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
5. PERSYARATAN LOKASI CACING TANAH
Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yg besar. Bahan-bahan organik tanah dpt berasal dr serasah (daun yg gugur), kotoran ternak atau tanaman & hewan yg mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yg mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. Untuk pertumbuhan yg baik, cacing tanah memerlukan tanah yg sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. dgn kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dpt bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi. Kelembaban yg optimal untuk pertumbuhan & perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %. Suhu yg diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah & penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yg lebih tinggi dr 25 derajat C masih baik asal ada naungan yg cukup & kelembaban optimal. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan & pengawasannya serta tdk terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yg atapnya terbuat dr bahan-bahan yg tdk meneruskan sinar & tdk menyimpan panas.
Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yg besar. Bahan-bahan organik tanah dpt berasal dr serasah (daun yg gugur), kotoran ternak atau tanaman & hewan yg mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yg mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. Untuk pertumbuhan yg baik, cacing tanah memerlukan tanah yg sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. dgn kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dpt bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi. Kelembaban yg optimal untuk pertumbuhan & perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %. Suhu yg diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah & penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yg lebih tinggi dr 25 derajat C masih baik asal ada naungan yg cukup & kelembaban optimal. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan & pengawasannya serta tdk terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yg atapnya terbuat dr bahan-bahan yg tdk meneruskan sinar & tdk menyimpan panas.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA CACING TANAH
Penyiapan Sarana & Peralatan
Penyiapan Sarana & Peralatan
- Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yg murah & mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk & genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yg berukuran 1,5 x 18 m dgn tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dpt pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
Pembibitan Cacing Tanah
- Persiapan yg diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing & kandang pelindung.
Pemilihan Bibit Calon Induk Cacing Tanah
- Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yg sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yg besar. Namun bila akan dimulai dr skala kecil dpt pula dipakai bibit cacing tanah dr alam, yaitu dr tumpukan sampah yg membusuk atau dr tempat pembuangan kotoran hewan.
Pemeliharaan Bibit Calon Induk Cacing Tanah
Pemeliharaan dpt dibagi menjadi beberapa cara:
- pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yg digunakan. Cacing tanah dpt dipilih yg muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m & lebar kurang lebih 1 m, dpt ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
- pemeliharaan dimulai dgn jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
- pemeliharaan kombinasi cara a & b.
- pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
- pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
Sistem Pengembangbiakan Cacing Tanah
Apabila media pemeliharaan telah siap & bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dpt segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yg ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yg lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yg berkeliaran di atas media atau ada yg meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tdk ada yg meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah & media sudah cocok. Sebaliknya bila media tdk cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dgn yg baru. Perbaikan dpt dilakukan dgn cara disiram dgn air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
Reproduksi, Perkawinan Cacing Tanah
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan & betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tdk dpt dilakukannya sendiri. dr perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yg berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong & berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yg lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dpt menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yg ditandai dgn adanya gelang (klitelum) pd tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
Apabila media pemeliharaan telah siap & bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dpt segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yg ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yg lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yg berkeliaran di atas media atau ada yg meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tdk ada yg meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah & media sudah cocok. Sebaliknya bila media tdk cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dgn yg baru. Perbaikan dpt dilakukan dgn cara disiram dgn air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
Reproduksi, Perkawinan Cacing Tanah
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan & betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tdk dpt dilakukannya sendiri. dr perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yg berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong & berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yg lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dpt menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yg ditandai dgn adanya gelang (klitelum) pd tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
Pemeliharaan Cacing Tanah
1. Pemberian Pakan
1. Pemberian Pakan
- Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yg ditanam. Apabila yg ditanam 1 Kg, maka pakan yg harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yg hanya dipakai sebagai media. Hal yg perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pd cacing tanah, antara lain : pakan yg diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dgn cara diblender, bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tdk menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dr peti wadah tdk ditaburi pakan, pakan ditutup dgn plastik, karung , atau bahan lain yg tdk tembus cahaya, pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk & jumlah pakan yg diberikan dikurangi, bubur pakan yg akan diberikan pd cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
2. Penggantian Media Cacing Tanah
- Media yg sudah menjadi tanah/kascing atau yg telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak & induk dipisahkan & ditumbuhkan pd media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
Proses Kelahiran
- Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yg tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk & ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran & kotaran ternak dijadikan satu dgn persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
7. HAMA & PENYAKIT CACING TANAH
Keberhasilan beternak cacing tanah tdk terlepas dr pengendalian terhadap hama & musuh cacing tanah. Beberapa hama & musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu & lain-lain. Musuh yg juga ditakuti adalah semut merah yg memakan pakan cacing tanah yg mengandung karbohidrat & lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dgn cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
Keberhasilan beternak cacing tanah tdk terlepas dr pengendalian terhadap hama & musuh cacing tanah. Beberapa hama & musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu & lain-lain. Musuh yg juga ditakuti adalah semut merah yg memakan pakan cacing tanah yg mengandung karbohidrat & lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dgn cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
8. PANEN CACING TANAH
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yg dpt diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) & kascing (bekas cacing). Panen cacing dpt dilakukan dgn berbagai cara salah satunya adalah dgn mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dgn medianya. Ada cara panen yg lebih ekonomis dgn membalikan sarang. Dibalik sarang yg gelap ini cacing biasanya berkumpul & cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali & pisahkan cacing yg tertinggal. Jika pd saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pd wadah semula & diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. & cacing tanah dpt diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yg baru & kascingnya siap di panen.
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yg dpt diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) & kascing (bekas cacing). Panen cacing dpt dilakukan dgn berbagai cara salah satunya adalah dgn mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dgn medianya. Ada cara panen yg lebih ekonomis dgn membalikan sarang. Dibalik sarang yg gelap ini cacing biasanya berkumpul & cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali & pisahkan cacing yg tertinggal. Jika pd saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pd wadah semula & diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. & cacing tanah dpt diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yg baru & kascingnya siap di panen.
Demikian artikel ttg Budidaya Cacing Tanah, semoga bermanfaat.
Baca juga ttg Budidaya/ Beternak Burung Puyuh melalui link di bawah ini
The item being reviewed
4
5
24
Cara Beternak/ Budidaya Cacing Tanah
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Tips Cara Memelihara Burung Puyuh
Tips Cara Memelihara Burung Puyuh - Buka Mata. Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai Budidaya Burung Puyuh , adalah mema...
Tips Cara Memelihara Burung Puyuh - Buka Mata.Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai Budidaya Burung Puyuh, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) & pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dgn tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
- utk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yg sehat atau bebas dr kerier penyakit.
- utk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan & puyuh petelur afkiran.
- utk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yg baik produksi telurnya & puyuh jantan yg sehat yg siap membuahi puyuh betina agar bisa menjamin telur tetas yg baik.
1) Sanitasi & Tindakan Preventif
- Untuk menjaga timbulnya penyakit pd pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang & vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
2) Pengontrolan Penyakit
- Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat & apabila ada tanda-tanda yg kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dgn petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dr Poultry Shoup.
3) Pemberian Pakan
- Ransum (pakan) yg bisa diberikan utk puyuh terdiri dr beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah & tepung. sebab puyuh yg suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dgn mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi & siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. utk pemberian minum pd anak puyuh pd bibitan terus-menerus.
Demikian artikel tentang Tips Cara Memelihara Burung Puyuh, semoga bermanfaat.
Baca selengkapnya tentang Tips Cara Budidaya/ Beternak Burung Puyuh melalui link di bawah ini Ternak Puyuh.
The item being reviewed
4
5
24
Tips Cara Memelihara Burung Puyuh
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Kandang Burung Puyuh Yang Ideal
Kandang Burung Puyuh Yang Ideal - Buka Mata. Dalam sistem perkandangan yg perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yg ideal atau nor...
Kandang Burung Puyuh Yang Ideal - Buka Mata. Dalam
sistem perkandangan yg perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yg
ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar
30-80%; penerangan kandang pd siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan
malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku utk cuaca mendung/musim hujan).
Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi bisa masuk
kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yg biasa
diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) & sistem sangkar
(batere). Ukuran kandang utk 1 m 2 bisa diisi 90-100 ekor anak puyuh,
selanjuntnya menjadi 60 ekor utk umur 10 hari sampai lepas masa anakan.
Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yg
biasa digunakan dlm budidaya burung puyuh adalah:
1. Kandang utk induk pembibitan
- Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas & kemampuan meghasilkan telur yg berkualitas. Besar atau ukuran kandang yg akan digunakan harus sesuai dgn jumlah puyuh yg akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
2. Kandang utk induk petelur
- Kandang ini berfungsi sbg kandang utk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, & keperluan peralatan yg sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
3.Kandang utk anak puyuh/umur stater (kandang indukan)
- Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pd umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dgn dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi utk menjaga agar anak puyuh yg masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung & mendapat panas yg sesuai dgn kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yg sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, & tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
4.Kandang utk puyuh umur grower (3-6 minggu) & layer (lebih dr 6 minggu)
- Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dgn kandang utk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
Demikian artikel ttg Kandang Ideal Burung Puyuh, semoga bermanfaat.
Baca selengkapnya tentang Tips Cara Budidaya/ Beternak Burung Puyuh melalui link di bawah ini Ternak Puyuh
The item being reviewed
4
5
24
Kandang Burung Puyuh Yang Ideal
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Cara Budidaya/ Ternak Puyuh Lengkap
Ternak Puyuh – Buka Mata . Pada kesempatan kali ini akan disajikan tentang bagaimana cara beternak burung puyuh. Budidaya/ beternak burung ...
Ternak Puyuh – Buka Mata. Pada kesempatan kali ini akan disajikan tentang bagaimana cara beternak burung puyuh. Budidaya/ beternak burung puyuh sebenarnya menjanjikan jika ternak puyuh tersebut dilakukan dengan benar. Selamat menyimak artikel ternak burung puyuh.
1. SEJARAH SINGKAT BURUNG PUYUH
Puyuh merupakan jenis burung yg tdk bisa terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek & bisa diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar). Ternak Puyuh pertama kali di Amerika Serikat, tahun 1870. & terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia ternak puyuh semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yg ada di Indonesia.
2. SENTRA PETERNAKAN BURUNG PUYUH
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di
- Sumatera.
- Jawa Barat.
- Jawa Timur.
- Jawa Tengah
3. JENIS BURUNG PUYUH
- Kelas : Aves (Bangsa Burung)
- Ordo : Galiformes
- Sub Ordo : Phasianoidae
- Famili : Phasianidae
- Sub Famili : Phasianinae
- Genus : Coturnix
- Species : Coturnix-coturnix Japonica
4. MANFAAT BURUNG PUYUH
- Telur & dagingnya mempunyai nilai gizi & rasa yg lezat
- Bulunya sbg bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
- Kotorannya sbg pupuk kandang ataupun kompos yg baik bisa digunakan sbg pupuk tanaman
5. PERSYARATAN LOKASI BURUNG PUYUH
- Lokasi jauh dr keramaian & pemukiman penduduk
- Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak & jalur-jalur pemasaran
- Lokasi terpilih bebas dr wabah penyakit
- Bukan merupakan daerah sering banjir
- Merupakan daerah yg selalu mendapatkan sirkulasi udara yg baik.[Lokasi Yang Cocok Untuk Budidaya Burung Puyuh]
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
A. Penyiapan Sarana & Peralatan
Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yg perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yg ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pd siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku utk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi bisa masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yg biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) & sistem sangkar (batere). Ukuran kandang utk 1 m 2 bisa diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor utk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yg biasa digunakan dlm budidaya burung puyuh adalah:
1.Kandang utk induk pembibitan
- Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas & kemampuan meghasilkan telur yg berkualitas. Besar atau ukuran kandang yg akan digunakan harus sesuai dgn jumlah puyuh yg akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
2. Kandang utk induk petelur
- Kandang ini berfungsi sbg kandang utk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, & keperluan peralatan yg sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
3.Kandang utk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
- Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pd umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dgn dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi utk menjaga agar anak puyuh yg masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung & mendapat panas yg sesuai dgn kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yg sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, & tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
4.Kandang utk puyuh umur grower (3-6 minggu) & layer (lebih dr 6 minggu)
- Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dgn kandang utk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.[Kandang Burung Puyuh Yang Ideal]
Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur & tempat obat-obatan.
Penyiapan Bibit Burung Puyuh
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) & pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dgn tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
- utk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yg sehat atau bebas dr kerier penyakit.
- utk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan & puyuh petelur afkiran.
- utk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yg baik produksi telurnya & puyuh jantan yg sehat yg siap membuahi puyuh betina agar bisa menjamin telur tetas yg baik.
B.Pemeliharaan
1) Sanitasi & Tindakan Preventif
- Untuk menjaga timbulnya penyakit pd pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang & vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
2) Pengontrolan Penyakit
- Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat & apabila ada tanda-tanda yg kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dgn petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dr Poultry Shoup.
3) Pemberian Pakan
- Ransum (pakan) yg bisa diberikan utk puyuh terdiri dr beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah & tepung. sebab puyuh yg suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dgn mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi & siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. utk pemberian minum pd anak puyuh pd bibitan terus-menerus.[Tips Cara Memelihara Burung Puyuh]
4) Pemberian Vaksinasi & Obat
- Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dgn dosis separo dr dosis utk ayam. Vaksin bisa diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dgn meminta bantuan petunjuk dr PPL setempat ataupun dr toko peternakan (Poultry Shoup), yg ada di dekat Anda ternak puyuh.
7. HAMA & PENYAKIT BURUNG PUYUH
Radang usus (Quail enteritis)
- Penyebab: bakteri anerobik yg membentuk spora & menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pd usus. Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair & mengandung asam urat. Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yg sehat dr yg tlah terinfeksi.
Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
- Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tdk menentu & lumpuh. Pengendalian: pertama dengan menjaga kebersihan lingkungan & peralatan yg tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yg mati segera dibakar/dibuang. Ini akan bermanfaat jika di jadikan pakan lele. Kedua yaitu pisahkan ayam yg sakit, mencegah tamu masuk areal ternak puyuh tanpa baju yg mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
Berak putih (Pullorum)
- Penyebab: Kuman Salmonella pullorum & merupakan penyakit menular. Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut & sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dgn pengendalian penyakit tetelo.
Berak darah (Coccidiosis)
- Gejala: tinja berdarah & mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; atau bisa dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dlm air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
Cacar Unggas (Fowl Pox)
- Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dr semua umur & jenis kelamin. Gejala: timbulnya keropeng-keropeng pd kulit yg tdk berbulu, seperti pial, kaki, mulut & farink yg apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria & mengisolasi kandang atau puyuh yg terinfksi.
Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yg bersifat sangat menular. Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk & bersi, mata & hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala & leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian pakan yg bergizi dgn sanitasi yg memadai.
Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang & lingkungan sekitarnya.
Penyebab: sanitasi yg buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu & lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang & pemberian pakan yg terjaga kebersihannya.[Hama dan Penyakit Burung Puyuh]
8. PANEN BURUNG PUYUH
Hasil Utama
- Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yg menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yg dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
Hasil Tambahan
- Sedangkan yg merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja & bulu puyuh.
Baca Juga artikel Cara Budidaya Semangka melalui link di bawah ini
Budidaya Semangka
The item being reviewed
4
5
24
Cara Budidaya/ Ternak Puyuh Lengkap
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Cara Budidaya Belut Dalam Drum/ Tong
Cara Budidaya Belut Dalam Drum/ Tong – Buka Mata . Sebelumnya telah disajikan tentang Budidaya Ikan Gurami dan pada kali ini akan disajik...
Cara Budidaya Belut Dalam Drum/ Tong – Buka Mata. Sebelumnya telah disajikan tentang Budidaya Ikan Gurami dan pada kali ini akan disajikan tentang cara budidaya belut. Adapun budidaya belut yg dimaksud adalah budidaya belut dalam tong. Pembahasan mengenai cara budidaya belut dalam tong akan dimulai dari persiapan awal hingga masa panen tiba.
Perlengkapan
Peralatan yang harus dipersiapkan dalam budidaya belut di dalam tong adalah sebagai berikut:
- Tong atau Drum, disarankan yang terbuat dari bahan plastik agar tidak berkarat.
- Paralon
- Kawat Kasa
- Tandon sebagai penampung air
- Ember, cangkul, baskom dan juga jerigen.
Persiapan dan Teknik Budidaya Belut
Hal yang perlu diperhatikan adalah media pemeliharaan sebagai tempat berkembang biak atau media tempat membesarkan belut.
1. Drum atau Tong
Pastikan drum yang digunakan untuk budidaya belut tidak bocor dan tidak berkarat. Bila drum yang digunakan terbuat dari besi atau kaleng, maka sebaliknya drum tersebut sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu dari karat dan lakukan pengecetan ulang dan diamkan sampai kering.
Cara mempersiapkan drum atau tong sebagai media budidaya belut dilakukan dengan tahapan-tahapan sbb:
Hal yang perlu diperhatikan adalah media pemeliharaan sebagai tempat berkembang biak atau media tempat membesarkan belut.
1. Drum atau Tong
Pastikan drum yang digunakan untuk budidaya belut tidak bocor dan tidak berkarat. Bila drum yang digunakan terbuat dari besi atau kaleng, maka sebaliknya drum tersebut sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu dari karat dan lakukan pengecetan ulang dan diamkan sampai kering.
Cara mempersiapkan drum atau tong sebagai media budidaya belut dilakukan dengan tahapan-tahapan sbb:
- Letakkanlah tong pada posisi tanah yang datar.
- Buka bagian tengan drum dan sisakan 5 cm pada bagian sisi kiri dan kanan.
- Pasang alat sebagai penganjal agar drum tidak menggelinding dan bergerak.
- Buat saluran pembuangan dibawah tong. Letak saluran pembuangan ini dapat disesuaikan dengan penampungan limbah pembuangan.
- Buah peneduh tong, sehingga intensitas panas matahari tidak terlalu tinggi dan mengenai langsung ke permukaan drum. Bahan ini dapat dibuat dengan net atau waring dan bisa juga dibuat dengan bahan-bahan yang lebih sederhana lainnya.
2. Tanah Yang Digunakan
Tanah yang digunakan adalah tanah yang tidak berpasir dan tanah yang tidak terlalu liat serta memiliki kandungan hara yang cukup. Dalam hal ini disarankan untuk menggunakan media tanah yang diambil dari sawah. Pematangan media tanah dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tanah yang digunakan adalah tanah yang tidak berpasir dan tanah yang tidak terlalu liat serta memiliki kandungan hara yang cukup. Dalam hal ini disarankan untuk menggunakan media tanah yang diambil dari sawah. Pematangan media tanah dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
- Masukkan tanah kedalam tong hingga ketinggian 30-40 cm
- Masukkan air hingga tanah becek namun tidak menggenang.
- Masukkan EM 4 sebanyak 4 botol kedalam tong.
- Aduk tanah sebanyak 2 kali sehari hingga tanah menjadi lembut dan gembur.
Perlakuan diatas tidak berlaku untuk bahan baku tanah yang diambil dari sawah.
3. Media Instan Bokashi
Media ini dibuat diluar tong yang merupakan campuran dari bahan utama dan bahan campuran. Penggunaan 100 kilo bahan akan menghasilkan 90 kilo media instan bokashi. Untuk setiap tong ukuran 200 liter membutuhkan 40 kilo bokashi. Dalam pembuatan bokashi dibutuhkan bahan-bahan utama sebagai berikut:
3. Media Instan Bokashi
Media ini dibuat diluar tong yang merupakan campuran dari bahan utama dan bahan campuran. Penggunaan 100 kilo bahan akan menghasilkan 90 kilo media instan bokashi. Untuk setiap tong ukuran 200 liter membutuhkan 40 kilo bokashi. Dalam pembuatan bokashi dibutuhkan bahan-bahan utama sebagai berikut:
- Jerami padi (40 persen)
- Pupuk Kandang (30 persen)
- Bekatul (20 persen)
- Potongan batang pisang (10 persen)
Bahan dan campurannya terdiri atas
- EM4
- Air Sumur
- Larutan 250 gram gula pasir untuk menghasilkan 1 liter larutan molases.
Cara membuat media instan bokashi sbb:
- Cacah jerami dan potongan batang pisang dan kemudian dikeringkan. Tanda bahan yang sudah kering adalah hancur ketika digenggam.
- Campurkan bahan cacahan di atas dengan bahan pokok lainnya dan aduk hingga merata.
- Campurkanlah bahan ini sedikit demi sedikit tetapi jangan terlalu basah.
- Tutup media dengan karung goni atau terpal selama 4-7 hari. Bolak balik campuran agar tidak membusuk.
4. Mencampur Tanah dan Media Bokashi
Tahap mencapur media tanah dan media bokashi sbb:
Tahap mencapur media tanah dan media bokashi sbb:
- Masukkan media Bokashi ke dalam tong dan aduk hingga merata.
- Masukkan air kedalam tong hingga ketinggian 5 cm dan diamkanlah hingga terdapat plankton atau cacing (sekitar 1 minggu) selama proses ini berlangsung tong tidak perlu ditutup.
- Keluarkan air dari tong dan ganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama.
- Masukkkan tumbuhan air yang tidak terlalu besar sebanyak 3/4 bagian dan ikan-ikan kecil.
- Masukkan vetsin secukupnya sebagai perangsang nafsu makan belut dan diamkan selama 2 hari.
Hal ini yang perlu diperhatikan adalah ketinggian seluruh media, kecuali media tumbuhan air tidak lebih dari 50 cm.
5. Masukkan bibit belut
Setelah seluruh media budidaya di atas dipersiapkan, maka tahapan selanjutnya adalah menebarkan bibit belut. Bibit yang ditebar sebaiknya sebanyak 2 kg atau dengan jumlah bibit sebanyak 160-200 ekor.
Perawatan
Perawatan belut yang dibudidayakan di dalam tong relatif lebih mudah. Hal-hal yg diperhatikan, diantaranya adalah:
a. Pemberian Pakan
Sebenarnya tidak ada aturan baku tentang volume pemberian pakan. Tetapi sebaiknya pakan diberikan 5 persen dari jumlah bibit yang ditebarkan. Pakan terdiri dari cacing, kecebong, ikan-ikan kecil, dan cacahan keong mas atau bekicot. Pemberian pakan diberikan pada hari ke-3 setelah bibit ditebar didalam tong. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut makan di alam bebas, yaitu sore dan malam hari.
b. Pengaturan Air
Pengaturan air sangat diperlukan untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk dan menimbulkan penyakit bagi belut. Pengaturan air ini dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air bersih kedalam tong. Sebaiknya air yang masuk berupa percikan air, dan hal ini sangat cocok dilakukan dengan menggunakan pipa paralon sebagai media aliran. Sementara untuk saluran pembuangan dapat dilakukan dengan membuat lobang pada tong di ketinggian 8 cm dari genangan air pada media.
c. Perawatan Tanaman Air
Tanaman air ini juga digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat budidaya belut dan menjaga belut dari kepanasan.
d. Pemberian EM4
EM4 berfungsi untuk menetralisir sisa-sisa pakan. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau. EM4 diberikan 2-3 kali sehari dengan dosis 1/2 sendok makan yang terlebih dilarutkan dalam 1 liter air.
e. Perawatan Disekitar Lokasi
Perawatan di sekitar lokasi ini dilakukan untuk menjaga tong dari tanaman liar, lumut, dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.
Panen
Pemanenan belut sudah dapat dilakukan setelah 3–4 bulan masa budidaya dilakukan atau sesuai dengan selera.
5. Masukkan bibit belut
Setelah seluruh media budidaya di atas dipersiapkan, maka tahapan selanjutnya adalah menebarkan bibit belut. Bibit yang ditebar sebaiknya sebanyak 2 kg atau dengan jumlah bibit sebanyak 160-200 ekor.
Perawatan
Perawatan belut yang dibudidayakan di dalam tong relatif lebih mudah. Hal-hal yg diperhatikan, diantaranya adalah:
a. Pemberian Pakan
Sebenarnya tidak ada aturan baku tentang volume pemberian pakan. Tetapi sebaiknya pakan diberikan 5 persen dari jumlah bibit yang ditebarkan. Pakan terdiri dari cacing, kecebong, ikan-ikan kecil, dan cacahan keong mas atau bekicot. Pemberian pakan diberikan pada hari ke-3 setelah bibit ditebar didalam tong. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut makan di alam bebas, yaitu sore dan malam hari.
b. Pengaturan Air
Pengaturan air sangat diperlukan untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk dan menimbulkan penyakit bagi belut. Pengaturan air ini dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air bersih kedalam tong. Sebaiknya air yang masuk berupa percikan air, dan hal ini sangat cocok dilakukan dengan menggunakan pipa paralon sebagai media aliran. Sementara untuk saluran pembuangan dapat dilakukan dengan membuat lobang pada tong di ketinggian 8 cm dari genangan air pada media.
c. Perawatan Tanaman Air
Tanaman air ini juga digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat budidaya belut dan menjaga belut dari kepanasan.
d. Pemberian EM4
EM4 berfungsi untuk menetralisir sisa-sisa pakan. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau. EM4 diberikan 2-3 kali sehari dengan dosis 1/2 sendok makan yang terlebih dilarutkan dalam 1 liter air.
e. Perawatan Disekitar Lokasi
Perawatan di sekitar lokasi ini dilakukan untuk menjaga tong dari tanaman liar, lumut, dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.
Panen
Pemanenan belut sudah dapat dilakukan setelah 3–4 bulan masa budidaya dilakukan atau sesuai dengan selera.
Demikian artikel ttg Cara Budidaya Belut Dalam Drum/ Tong, semoga bermanfaat.
The item being reviewed
4
5
24
Cara Budidaya Belut Dalam Drum/ Tong
Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Unknown
Langganan:
Postingan (Atom)
