Www.buka-mata.blogspot.co.id adalah blog tentang tips/ cara, beternak/ budidaya dan pendidikan

Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing

Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing (Cat-scratch Disease - CSD) - Buka Mata. Cat-scratch Disease adalah penyakit sub-akut, yg disebabkan oleh bakteri & biasanya sembuh dgn sendirinya. Penyakit ini ditandai dgn malaise, limfadenitis granulomatosa disertai dgn berbagai variasi demam. Sering kali didahului dgn riwayat cakaran, jilatan atau gigitan kucing yg kemudian menimbulkan luka papuler. Kelenjar limfe setempat biasanya membengkak 2 minggu setelah gigitan/cakaran & bisa berlanjut menjadi luka yg mengeluarkan pus.

Terbentuknya papula pd daerah tempat masuknya bakteri ditemukan pd sekitar 50 – 90 % kasus. Sindroma Parinaud oculoglandular & komplikasi neurologis, seperti ensefalopati & neuritis pd mata dapat terjadi sesudah inokulasi pd mata. Demam yg berlangsung dlm waktu lama bisa diikuti dgn lesi osteolitik & atau terbentuknya granulomata pd hati & limpa. Bakteriemia, peliosis hepatis & angiomatosis basilair merupakan manifestasi infeksi oleh kelompok oganisme ini pd orang yg immunocompromised, terutama pd infeksi HIV.

CSD dapat dikelirukan dgn penyakit lain yg menyebabkan limfadenopati setempat seperti tularemia, brusellosis, tuberkulosa, pes & pasteurellosis. Diagnosa didasarkan pd gambaran klinis yg konsisten ditambah dgn hasil pemeriksaan serologis terbentuknya antibodi terhadap Bartonella. Titer sebesar 1:64 atau lebih dgn pemeriksaan IFA, dianggap positif terkena CSD.

Pemeriksaan histopatologi dari kelenjar limfe yg terkena bisa memberikan gambaran khas yg konsisten, tetapi bukan diagnostik. Pus yg diambil dari kelenjar limfe biasanya tidak mengandung bakteri dgn pemeriksaan konvensional, namun sesudah ditanam agak lama pd darah kelinci dgn 5% CO2 pd suhu 36oC (96.8oF), Bartonella dapat tumbuh dari spesimen yg diambil dari kelenjar limfe.


1. Penyebab penyakit
  • Bartonella (sebelumnya disebut Rochalimaea) henselae secara epidemiologis, bakteriologis & serologis telah diketahui sebagai etiologi dari CSD, begitu pula sebagai penyebab bacillary angiomatosis, peliosis hepatis & bakteriemia. Keluarga lain dari Bartonellae, seperti B. Quintana, juga menyebabkan kesakitan pd hospes “immunocompromised”, tetapi tidak menyebabkan CSD. Afipia pelis, yg sebelumnya diduga sebagai organisme penyebab, ternyata organisme ini hanya memainkan peranan sangat kecil, sebagai penyebab CSD.

2. Distribusi penyakit
  • Tersebar diseluruh dunia, tetapi jarang terjadi. Surveilans prospektif yg dilakukan di satu negara bagian (AS) menemukan insiden setahun sebesar 4.0 kasus/100.000 penduduk. Semua jenis kelamin mempunyai risiko yg sama utk terkena, & CSD lebih sering terjadi pd anak-anak & dewasa muda. Pengelompokan penderita dlm suatu keluarga jarang terjadi. Kebanyakan kasus muncul pd bulan-bulan diakhir musim panas, musim gugur & musim dingin.

3. Reservoir
  • Kucing rumah adalah vektor & reservoir utk B. henselae; Kucing yg terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis walaupun menderita bakteriemia kronis.

4. Cara penularan
  • Kebanyakan pasien (lebih dari 90%) ada riwayat dicakar, tergigit, dijilat kucing atau terpajan dgn kucing yg sehat, biasanya kucing muda (kadang anak kucing). Riwayat cakaran atau gigitan anjing, gigitan monyet, kontak dgn kelinci, ayam atau kuda diketahui terjadi sebelum munculnya gejala, namun hampir semua kasus CSD mempunyai riwayat pernah kontak dgn kucing. Kutu kucing menularkan B. henselae kepd sesama kucing, & baru pd akhir tahun 1999 kucing diketahui mempunyai peranan penting pd penularan langsung dari B. henselae kepd manusia.

5. Masa inkubasi
  • Bervariasi, biasanya 3 - 14 hari dari saat masuknya bakteri ke dlm tubuh hingga munculnya lesi primer & sekitar 5 – 50 hari dari saat masuknya bakteri hingga munculnya limfadenopati.
6. Masa penularan : Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang.

7. Kekebalan & kerentanan : Tidak diketahui.

8. Cara-cara pemberantasan

A. Cara-cara pencegahan :
  • Bersihkan luka akibat dicakar atau digigit kucing dgn baik. Hal ini akan sangat menolong. Upaya membasmi kutu kucing sangat penting.
B. Pengawasan penderita, kontak & lingkungan sekitar :

    * Laporan kepd petugas kesehatan.
    * Isolasi : tidak dilakukan.
    * Disinfeksi serentak : terhadap discharge luka yg bernanah.
    * Karantina, imunisasi kontak & investigasi kontak & sumber penyakit : tidak dilakukan.
    * Pengobatan spesifik :

Efektivitas dari terapi antibiotik sangat tidak jelas terhadap CSD. Antibiotik yg umum dipakai seperti rifampisin, eritromisin & doksisiklin, efektif utk infeksi yg menyebar pd penderita AIDS. Pengobatan terhadap penderita CSD tanpa kompliksi dgn sistem kekebalan yg baik tidak dilakukan. Namun, semua penderita immunocompromised sebaiknya diobati selama 1 – 3 bulan. Aspirasi dari limfadenitis bernanah mungkin diperlukan utk mengurangi rasa sakit, tetapi biopsi insisi dari kelenjar limfe sebaiknya dihindari.

C. Tindakan penanggulangan wabah : Tidak dilakukan.
D. Implikasi bencana : tidak ada.
E. Tindakan internasional : tidak ada.

Meningkatnya ancaman pandemi penyakit yg belum pernah diidentifikasi sebelumnya seperti virus flu burung membuat para ahli semakin waspada. Baru-baru ini ilmuwan di Amerika Serikat menemukan strain bakteri baru yg berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit bahkan mematikan.

Bakteri yg diberi nama Bartonella rochalimae tersebut ditemukan pd seorang wanita AS berusia 43 tahun yg baru saja melakukan perjalanan ke Peru selama 3 minggu. Wanita yg tidak disebutkan namanya itu menderita demam yg mirip dgn gejala malaria atau demam typhoid.

Jenis bakteri bartonella ini mempunyai hubungan dekat dgn mikroba yg pernah menyebabkan ribuan tentara menderita sakit saat Perang Dunia Pertama yg lebih dikenal sebagai demam parit. Penularan penyakit tersebut terjadi lewat carian tubuh. Bakteri ini juga diduga masih berkerabat dgn bakteri yg diidentifikasi 10 tahun lalu ketika terjadi epidemi AIDS di San Fransisko, AS, yg menyebabkan penyakit cakaran kucing & menginfeksi 25.000 orang per tahun di AS.

Wanita yg terinfeksi bakteri tersebut mempunyai gejala ruam, muncul bintik-bintik kecil di seluruh tubuh, sulit tidur & mengalami demam tinggi selama beberapa minggu. Bakteri ini bersarang di sekitar pegunungan Andes, Peru, & menyebar melalui lalat. Para ahli menduga penyakit yg ditemukan pd wanita itu merupakan pertama kali yg disebabkan bakteri bartonella.

Dr.Jane Koehler adalah orang pertama yg menemukan pasien yg terinfeksi Bartonella di tahun 1987 di klinik AIDS di rumah sakit San Fransisco. "Bakteri tersebut menggerogoti tulang pasien AIDS selama beberapa bulan," kata Koehler. Berdasarkan penelitian Koehler, bakteri ini dapat menyebabkan luka yg nyeri & tumor pd pembuluh darah di kulit.

"Jika pasien mengalami demam tinggi & berkepanjangan, dokter harus melakukan diagnosa yg tepat & melakukan perawatan segera, terutama pd pasien yg mempunyai sistem imun rendah, mereka bisa mati karena infeksi bakteri ini," ujar Koehler. (fn/sc/ld)

(Sumber: www.suaramedia.com)
Special Thanks to :
1. Allah SWT
2. Pengunjung
3. Pengiklan
Anda sedang membaca artikel tentang Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing dan anda bisa menemukan artikel Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing ini dengan url http://buka-mata.blogspot.com/2012/05/penyakit-kucing-demam-cakaran-kucing.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing sebagai sumbernya.
The item being reviewed 4 5 24

ARTIKEL TERKAIT:

Penyakit Kucing : Demam Cakaran Kucing Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Buka Mata

0 comments:

Posting Komentar